Susur Sungai Kahayan : Kar’na Inot Menangis Bila Tak Ada Pohon

Namanya Inot. Seekor orang utan  yang dipelihara oleh kakek Mardi, kakeknya si As, sahabatku saat kuliah dulu. As sering pamer foto si Inot dengan ragam polah tingkahnya. Lucu dan menggemaskan sekali. Katanya, si Inot dulu datang sendiri ke kampung, keluar dari hutannya yang sedang dihabisi untuk jadi perkebunan sawit. Sementara dipelihara dulu oleh Kakek Mardi. Terakhir yang aku tahu, si Inot akhirnya dikembalikan ke hutan. Hutan yang mana entah. Kalimantan masih punya hutan luas. Lalu tak pernah ku lihat lagi As pamer foto Inot. Walaupun begitu, karena Inot, aku jadi punya niatan jalan-jalan ke Kalimantan.

***

Sudah lama sekali aku ingin ke Kalimantan. Pikirku, jika bisa mengeksplore salah satu pulau besar di Indonesia yang terkenal masih memiliki kekayaan alam yang luar biasa itu, pasti akan jadi petualangan yang sangat menarik. Bermodalkan uang secukupnya, niat yang sudah lama terpendam, serta sekedar kata ‘iya’ dari As untuk menjadi guide dadakan, jadilah sekarang aku berada di Palangka Raya, ibukota Kalimantan Tengah.

Berada di kota ini saat musim panas rasanya seperti masuk ke dapur panggang. Mataharinya sedang garang! Sedari tadi bajuku sudah basah oleh keringat. Sudah dua botol air mineral dingin ku habiskan, dan sekarang aku sedang menegak minuman dari botol ketiga.

Aku melirik As yang berdiri di sebelahku. Ia sama berkeringatnya denganku. Aku yakin ia pun kepanasan, nampak dari pipinya yang sudah memerah seperti udang rebus. Hanya saja ia nampak jauh lebih tenang, seperti sama sekali tak terusik dengan panasnya udara. Mungkin sudah terbiasa.

“Mau kemana lagi kita?” tanyaku pada As sambil mencolek bahunya. As hanya menatapku dengan ekspresinya yang datar.

“Susur Sungai Kahayan yuk. Masih sempat nih,” jawabnya sambil tersenyum kecil dan menarik tanganku untuk bergegas. As sama sekali tidak memberiku kesempatan bertanya dan menyatakan setuju atau tidak. Kalau sudah begini, artinya ikut saja. Tak apalah, toh aku sendiri pun sebenarnya excited ingin tahu seperti apa wisata susur sungai terpanjang di Kalimantan yang dimaksud As ini. Apa sama seperti yang ditawarkan Chao Praya di Thailand saat dulu aku ke sana? Entahlah.

***

Jam menunjukkan pukul empat sore ketika aku dan As sampai di dermaga kecil yang berada tidak jauh dari Jembatan Kahayan. As meninggalkanku sebentar. Katanya, ia mau ke dermaga bawah mencari tumpangan. Aku hanya mengangguk sambil memperhatikannya dari jauh. Aku masih belum paham susur sungai macam apa yang dimaksud As. Sahabatku ini selalu sukses membuatku penasaran dan bertanya-tanya ‘kemana lagi nih?’ atau ‘apa lagi nih?’ sejak hari pertama menemaniku berpetualang di kota kelahirannya. Di hari ketiga ini pun ia masih saja begitu.

Tidak perlu menunggu lama, As sudah melambai memanggilku untuk naik ke perahu yang sudah menunggu di pinggir dermaga bawah.

“Ayo Dev, bertiga aja ya, bareng sama yang punya. Kalau tunggu penumpang yang lain sampai kelotoknya penuh bakalan lama,” teriaknya dari kejauhan.

“Hahh? Klotok? Kopi klotok maksudnya?” tanyaku dalam hati sambil menuruni tangga dermaga.

“Kalau di sini, perahu kecil yang menggunakan mesin seperti ini namanya kelotok.” Tanpa diminta As menjelaskan tentang perahu kecil yang akan kami gunakan untuk susur sungai saat aku tiba di dekatnya. Ia seakan bisa membaca kebingunganku. Aku hanya manggut-manggut.

“Kenalin dulu, itu namanya Kak Umis. Dia yang punya kelotok. Nanti kita diantar putar-putar sampai puas.” As memperkenalkan si empunya kelotok. Kak Umis melambai dan tersenyum ramah kepadaku. Tak mau mengganggu Kak Umis yang sedang sibuk dengan mesin di bagian belakang kelotok, aku hanya membalas tersenyum dan menganggukan kepala saja kepadanya.

“Ehh…tunggu dulu. Yakin nih kita naik ini?” tanyaku ragu setelah benar-benar memperhatikan  perahu yang akan kami tumpangi. Bagiku, yang disebut-sebut kelotok ini kecil sekali, dan pinggirannya pun pendek. Pikiran-pikiran mengerikan seketika langsung muncul di benakku. Lah gimana kalau berpapasan dengan perahu lain lalu kena gelombang? Kuat nggak nih? Yakin air nggak masuk kalau perahunya sependek ini? Serius nggak akan tiba-tiba ada mahkluk air yang muncul dan masuk melompat ke dalam?

“Iya. Memangnya kenapa?” As langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaanku.

 “Sudah naik saja, aman kok,” lanjut As. Ia pun langsung naik ke atas perahu dan menatapku lekat sebagai tanda bahwa tak mau ada protes. Tatapannya seakan berkata “buruan naik!”

Aku menghela napas panjang dan mengumpulkan keberanian.

“Hmm, beranilah. Cuma begini saja masa takut,” ucapku dalam hati mencoba menyemangati diri sendiri. Aku memantapkan langkah menaiki perahu. Ah, tapi ternyata tetap saja tak bisa ku tahan doa-doa beruntun keluar dari mulutku. As hanya duduk sambil tertawa kencang. Mahkluk yang jarang tertawa seperti dia ini, kalau sudah tertawa begini, rasanya sungguh menyebalkan.

“Ada alternatif lain? Yang itu mungkin?” tanyaku polos sembari menunjuk sebuah kapal yang berada tidak jauh dari kelotok yang akan kami naiki.

“Nggak ada. Itu butuh penumpang lebih banyak. Lebih mahal juga.”

“Sudah, duduk saja yang tenang. Kelotok ini aman kok, sudah terpercaya berkali-kali bolak balik mengantarkan wisatawan sepertimu untuk wisata susur sungai,” ujar As mencoba menenangkanku.

“Aminn…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku masih sibuk meyakinkan diri sendiri dan mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh dari kepalaku.

Untungnya seiring suara pekak dari mesin kelotok yang mulai dihidupkan, rasa takutku perlahan mulai tergerus. Aku pun menyiapkan kamera untuk mengabadikan petualangan susur Sungai Kahayan kali ini.

***

Sesaat aku dan As hanya terdiam saat kelotok yang kami tumpangi mulai menyusuri Sungai Kahayan. Aku menikmati angin sepoi-sepoi yang perlahan lembut membelai tubuhku. Matahari pun seakan mendukung dengan tak lagi sepanas tadi. Sensasinya nikmat sekali setelah seharian merasakah gerah.

Kami melewati bagian bawah Jembatan Kahayan yang tadi hanya aku lihat dari kejauhan. Kalau Madura punya Suramadu, atau Palembang punya Ampera, Palangka Raya punya Jembatan Kahayan. Salah satu icon Kota Palangka Raya yang melintang di atas Sungai Kahayan ini semakin terlihat kegagahannya saat dari dekat.

Di pinggiran sungai terlihat rumah-rumah apung sederhana. Kemarin saat mengeksplore salah satu desa, sudah ku lihat rumah yang macam ini. As bilang namanya lanting. Rumah-rumah apung tersebut seakan menjadi perhiasan khas Sungai Kahayan. Cantik, sekaligus membuatku sedikit bergidik.

Bagaimana rasanya hidup di rumah yang mengapung di atas sungai? Terayun-ayun kena gelombang, dan tak takutkah bila tiba-tiba disergap banjir?” batinku.

Nampak pula bocah-bocah di sekitar lanting. Ada yang sedang asyik berenang, ada yang berusaha menarik temannya untuk ikut menyelam, bahkan ada pula yang masih berdiri di lanting sedang bersiap untuk terjun ke sungai. Aku hanya geleng-geleng kepala saat salah satu bocah terjun ke sungai dengan gaya salto yang aneh. Berbahaya sekali. Untungnya si bocah muncul kembali ke permukaan sambil tertawa-tawa. Walau tak bisa ku dengar suara gelak tawanya, tapi aku bisa melihat bocah itu dan teman-temannya bahagia sekali bermain di sungai.

Lagi-lagi aku melirik As. Kami menikmati pemandangan, tapi suasana di atas kelotok sepi, belum ada perbincangan sama sekali sejak berangkat. Seperti biasa, As lebih banyak diam sambil melempar pandangannya jauh-jauh. Hanya suara mesin kelotok saja yang sedari tadi ku dengar.

“Heiii…” teriakku memanggil As. Ia tak bergeming. Sepertinya suaraku kalah nyaring ditelan oleh raungan mesin kelotok.

“Heiii As!” Aku ulang memanggilnya. Kali ini dengan sekuat tenaga. Ia menoleh dan hanya mengangkat dagunya sembari menaikan kedua alisnya tanpa berucap apapun.

“Menikmati sekali sepertinya? Bukankah sudah 18 tahun lebih hidupmu di kota ini? Apa lagi yang dinikmati sebegitunya?” protesku.

Ia hanya tersenyum simpul dan memberi tanda agar aku diam saja menikmati perjalanan susur sungai. Aku mendengus kesal karena tingkahnya. Kali ini aku ikut melempar pandanganku jauh-jauh.

***

Tak lama kami memasuki sebuah cabang anak sungai. Airnya lebih tenang dan ukurannya tak terlalu lebar. Pemandangan di kanan kiri sungai sudah berganti dengan hutan. Hmm…, ini nih hutan Kalimantan. Hutannya masih sangat lebat dan terkenal sebagai paru-parunya dunia. Semua serba hijau, berpadu dengan warna air sungai yang kecoklatan. Eksotis sekali.

Tiba-tiba Kak Umis memperlambat laju kelotok dan mematikan mesin. Spontan aku mencengkeram erat lengan As.

“Ini kenapa berhenti? Kalau tiba-tiba diserang buaya gimana? Kalau ada ular bergelantungan di dahan pohon yang melintang di atas sungai terus jatuh pas kita lewat? Atau kalau tiba-tiba ada anaconda muncul dari air????” ucapku panik.

As hanya menatapku dengan tatapan aneh dan berkata, “Dev…, please deh. Kebanyakan nonton film sih ah. Begini nih hasilnya. As mengibaskan tangannya berusaha melepaskan cengkeraman tanganku.

“Santai aja, aman di sini. Berhenti sebentar foto-foto.” Kak Umis akhirnya ikut bersuara pula dengan logat daerahnya yang khas.

“Iya kak,” As menjawab singkat.

“Gih, sana foto-foto lagi. Kalau kamu kembali ke Jakarta, nggak ada lagi nih pohon-pohon lebat tinggi begini.”

Aku menatap ke sekeliling. Matahari mengintip malu-malu dari balik dedaunan. Sesekali aku mendengar suara burung dan suara hewan hutan yang entah apa berpadu memecah keheningan. Aku menurut saja dan kembali mengambil foto.

“Kalau beruntung, kamu bisa lihat orang utan.” As memberitahuku sambil asyik clingak clinguk mencari yang barusan disebutnya sebagai keberuntungan.

“Kamu dari tadi kenapa diam aja?” Aku bertanya pada As sambil tetap sibuk mengambil foto.

“Menikmati pemandanganlah. Apa lagi?” jawab As.

“Semacam nggak pernah ke Kalimantan aja,” aku membalas sedikit ketus.

As tertawa sambil menatapku. Aku menatapnya balik dengan bingung. Mulai kumat lagi anehnya anak ini.

“Aku sudah merantau 10 tahun dan hanya bisa kembali ke sini sekali setahun. Menurutmu seperti apa rasanya ketika aku bisa pulang kampung seperti sekarang ini? Pulang ke tempat di mana kamu nggak bisa menemukan suasana seperti ini di daerah perantauanmu.” Kali ini ia menjawab tanpa menatapku. Tatapannya terkunci ke arah hutan di sisi kanan sungai. Sedang ada beberapa burung kecil terbang di antara pepohonan. Aku buru-buru mengarahkan kameraku ke sana.

“Suasananya berbeda. Udara yang bisa kita hirup juga berbeda. Di sini nggak bising. Di sini mata dan paru-parumu bisa segar.”

Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapannya.

“Tapi apa kamu tahu, Dev? Tiap tahun aku pulang, aku selalu merasakan perubahan.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Kalau kamu lihat hutan ini lebat, nyatanya nggak selebat dulu. Kalau kamu lihat di sini masih sangat hijau, di sisi lain, sudah banyak hutan yang gundul. Nggak hijau lagi, sisa terbakar. Kalau nggak terbakar, ya dibabat untuk jadi gedung, atau untuk jadi perkebunan sawit.”

“Lalu?” tanyaku masih tak paham.

“Ya nikmati selagi bisa dinikmati. Lalu berpikir generasi muda seperti kita ini bisa melakukan apa supaya hutan ini masih bisa terus ada. Hutan seperti ini keanekaragaman hayatinya kaya loh. Satu mata rantai saja putus, ekosistemnya nggak akan berjalan sempurna lagi. Kamu ingat Inot?”

“Ingat. Gimana ya kabarnya?” tanyaku sambil meletakkan kamera dan duduk di samping As.

As hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

“Masih akan banyak orang utan yang bernasib sama dengan Inot kalau kita nggak bisa melakukan sesuatu untuk menjaga kekayaan alam yang ada sekarang. Nggak cuma di Kalimantan ini. Mungkin di Sumatera sana juga, atau di daerah lain.”

“Kasian orang utan macam Inot kalau nggak punya pohon. Pasti nangis tuh kalau rumahnya diambil,” jawabku dengan pikiran yang tiba-tiba melintas begitu saja dibenakku.

“Kalau kamu traveling, jangan hanya sekedar menikmati keindahannya, tapi nikmati juga cerita lain yang bisa jadi ancaman bagi keberlangsungan tempat yang sedang kamu kunjungi.” Kali ini nada bicara As sedikit menggebu-gebu.

“Nanti di masa anak cucu kita, mereka nggak cuma sekedar baca cerita perjalanan yang kamu tulis di blogmu dan berkhayal seperti apa rupanya tempat yang kamu ceritakan, tapi mereka juga masih bisa menikmati petualangan yang sama seperti yang kamu lakukan sekarang,” lanjut As. Panjang lebar ia menjelaskan maksud pikirannya padaku.

Ah, As selalu saja begini. Ia sama sepertiku, hobi jalan-jalan. Tapi aku menyebutnya ‘pejalan pemikir’ dan ‘pencari masalah’. Tiap kali ia melakukan perjalanan, ia lebih suka blusukan. Tiap kali pulang selalu ada masalah baru yang diangkatnya tentang tempat yang baru saja dikunjunginya. Tiap kali itu pun ia selalu mengajakku berpikir mencari solusi dan tindakan. Katanya, anak komunitas pejalan sepertiku tentu punya kesempatan dan link yang lebih banyak untuk melakukan aksi nyata untuk pariwisata dan alam di Indonesia.

“Hehh, kenapa diam? Bosan?” As membuyarkan lamunanku.

“Ayo Kak Umis, kita jalan lagi. Ada yang sudah bosan ini,” As berseru kepada Kak Umis yang sedang asyik selfie macam anak muda jaman sekarang.

“Siappp…” balasnya sambil buru-buru memasukkan ponsel ke saku celananya.

“Yee, nggak gitu kali. Aku cuma mikirin kata-katamu barusan,” protesku pada As.

“Iya. Tapi ini sudah sore, jalan ajalah. Biar nanti bisa ngeliat sunset pas di bawah Jembatan Kahayan.”

Kelotok dihidupkan dan kami kembali melanjutkan perjalanan susur sungai. Kali ini aku memilih duduk di bagian depan di samping Kak Umis supaya bisa lebih puas menikmati pemandangan Sungai Kahayan saat mulai dipeluk senja.

“Nih, supaya lebih seru petualangan susur sungainya.” Kak Umis melepas sebelah tangannya dari kemudi dan memberi kode kepadaku untuk mencoba dan bertukar tempat duduk.

“Hahh???” Aku bengong. Tentu saja aku bisa menyetir, tapi mobil, dan itu pun di jalan raya. Lah ini?? Mengemudikan kelotok, di sungai pula. Aku masih cukup waras untuk menolak permintaan Kak Umis. Rasa-rasanya aku masih ingin kami kembali ke dermaga dengan selamat. Kak Umis kembali tertawa melihat ekspresiku.

“Ayo, nanti aku ajarin. Gampang kok. Yang penting ikut instruksi aja.”

Kak Umis memperlambat laju kelotok. Dengan setengah ragu, aku tak bisa menolak ketika ia berdiri untuk bertukar posisi denganku. Sedikit gemetar memegang kemudi kelotok. Rasanya jauh berbeda dengan saat memegang kemudi mobil. Sementara Kak Umis terus melontarkan instruksi-instruksi agar aku paham cara mengemudi dengan benar, aku hanya berdoa dalam hati berharap petualangan ini tak berubah jadi tragedi. Fiuhh…

“As, makasih ya sudah ngajakin berpetualang ke sini, sekalian diajak mikir. Bolehlah kapan-kapan berpetualangnya sampai ke tahap action,” teriakku pada As sambil menyempatkan menoleh ke belakang.

“Biar si Inot-Inot berikutnya nggak nangis kalau nggak punya pohon untuk tinggal,” lanjutku.

Ia mengangguk mantap tanda setuju. “That will be an awesome journey, Dev,” balas As sambil tertawa.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

4 pemikiran pada “Susur Sungai Kahayan : Kar’na Inot Menangis Bila Tak Ada Pohon”

Tinggalkan komentar