Singgah Sejenak di Floating Village, Siem Reap, Kamboja

Saat saya iseng melihat-lihat foto perjalanan ke Kamboja, saya jadi teringat perjalanan saya keΒ Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Reap. Siem Reap, sebuah daerah yang cukup jauh dari Phnom Penh – Ibukota Kamboja. Perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap bisa dicapai dengan naik bus. Waktu tempuhnya sekitar 7-8 jam. Saat saya di Siem Reap, selain mengunjungi beberapa temple di pagi hari, sore harinya saya mengunjungi Danau Tonle Sap.

Jalan-jalan ke Danau Tonle Sap ini sebenarnya nggak jadi tujuan utama saya dan teman-teman. Berhubung sopir TukTuk kami menawari untuk mampir ke sana, jadilah kami mengiyakan. Perjalanan ke Danau Tonle Sap dari penginapan saya di dekat night market hanya sekitar 45 menit menggunakan TukTuk. Sepanjang perjalanan, sopir TukTuk menceritakan banyak hal tentang kehidupan di floating Village. Katanya sih desa tersebut jadi tempat tinggal warga miskin di Siem Reap. Warga yang tinggal di sana menyebut Danau Tonle Sap sebagai danau kehidupan. Warga di sana mengandalkan pemasukan maupun makanan dari danau atau hutan di sekitarnya saja.

Sepanjang Perjalanan ke Danau Tonle Sap : Nyicipin Biji Bunga Lotus & Melihat Bentuk Rumah Warga

Perjalanan saya waktu itu lancar banget, nggak ada macet seperti Jakarta πŸ˜€ Jalannya luas dan sepi. Saya bersama tim jejakdolan menikmati perjalanan itu sambil bercanda. Kami antusias ingin mengetahui lebih banyak seperti apa kehidupan warga di Floating Village.

Sembari mendengarkan cerita dari sopir TukTuk, kami melewati beberapa perkebunan Lotus. Bunga lotus yang selama ini saya tau cuma sekedar bunga ternyata punya biji yang bisa dimakan lho. Rasa biji bunga lotus menurut saya seperti edamame, tapi ada wangi-wanginya gitu dan agak sepet.

Biji Lotus
Biji Lotus. Foto by Jemzamanda.

Cara makan biji bunga lotus gampang, tinggal dibuka kulitnya, trus bisa langsung dimakan. Hehehe, Β tapi saya nggak berani makan terlalu banyak, takut perut sakit karena nggak terbiasa. Maklum, perut saya itu sensitif.

Selain banyak hamparan kebun lotus, saya juga sambil melihat rumah warga Siem Reap. Hampir mirip seperti rumah panggung di Indonesia, lalu bagian bawahnya digunakan untuk parkir motor, ternak ayam, maupun hanya bersantai menggunakan hammock. Yaaa… di Kamboja ini saya sering menjumpai orang bersantai menggunakan hammock, hihihi.. asik juga ya…

Sampai di Danau Tonle Sap, Masih Harus Lanjut Naik Boat ke Floating Village

Sesampainya di Danau Tonle Sap, ternyata nggak sesuai perkiraan kami. Kami pikir begitu sampai ya udah kami bisa langsung melihat floating village. Jadi walaupun ada tiket 20 USD per orang, kami nggak perlu beli. Cuma lihat saja desanya dari jauh sambil menikmati Danau Tonle Sap. Ternyata nggak gitu, haha…

Di tempat pemberhentian TukTuk yang semacam area parkir besar gitu, kami harus masuk membeli tiket wisata menuju ke floating villagenya. Kalau cuma mau liat-liat di daerah situ sih nggak ada apa-apa yang bisa dilihat. Memang harus naik boat ke floating village.

Sopir TukTuknya juga bilang, β€œuntuk mengetahui kehidupan di danau ini, kalian harus melanjutkan perjalanan naik boat. Perjalanan menuju floating village ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan dari titik pembelian tiket. Sayang kalau sudah sampai sini tapi kalian tidak keliling ke sana.” – ini terjemahan ya, aslinya si sopir TukTuk ngomong dalam Bahasa Inggris πŸ˜€

Mendengar ucapan si sopir, saya dan teman-teman jadi saling pandang lalu diskusi. Kami nggak mengalokasikan dana untuk beli tiket masuk, ahayyy…

β€œNggak usah wes, kan uang kita mepet,” kata saya kepada teman-teman.

Diskusi tentang jadi atau nggaknya ke floating village berlangsung agak lama. Ahahahaha…, maklum, semua perkiraan kami buyar seketika saat tau tetap harus beli tiket untuk ke floating village.

Setelah berunding, kami sepakat untuk nggak beli tiket boat. Mending lihat-lihat di sekitar situ aja. Kami lalu menyampaikan kepada si sopir TukTuk. Tau nggak sopir TukTuknya jawab apa? πŸ˜€

β€œLalu ngapain ke sini? Sudah jauh-jauh ke sini tapi nggak pengen tahu kehidupan warga di sini. Mending masuk aja biar tahu. Sayang lho sudah ke sini tapi cuma liat-liat air. Nggak akan tahu kehidupan warga sini kalau tidak naik boat.” – Kurang lebih begitulah kata-kata si sopir TukTuk dalam Bahasa Indonesia.

Dyaaar… saya sempet sebel sih, terkesan gimana gitu nada sopir TukTuknya. Tapi bener juga, kapan lagi ya? Kami lalu berunding lagi. Salah satu teman saya yang awalnya sakit kepala, langsung sembuh seketika gara-gara urusan beli tiket boat yang di luar rencana. Akhirnya setelah nimbang ini itu, akhirnya kami menyerah dan membeli tiket boat.

Yok Mareee Cusss ke Floating Village

Boat yang kami gunakan ternyata spesial untuk kami saja. Nggak digabung dengan rombongan wisatawan lainnya. Sek asekkk… Isinya selain kami sebagai penumpang, pastinya masih ada bapak pengemudi kapal dan 1 awak kapal.

Perjalanan dari titik pembelian tiket ke floating village sekitar 1 jam. Sepanjang perjalanan hanya ada pemandangan tanaman, tanah yang gersang, rombongan sapi, dan beberapa boat sejenis yang membawa wisatawan lain.

Pemandangan Menuju Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Riep

Setelah sempat hening, pria yang menjadi awak kapal mencoba berinteraksi dengan kami. Ia menyapa menggunakan Bahasa Inggris. Kami lalu kenalan. Ecieee… kenalan, haha…

Tapi mohon maap nih, saya dan teman-teman lupa nama mas nya siapa. Namanya panjang. Nama lokal Kamboja gitu, dan ejaannya susah menurut kami. Jadi di dalam cerita ini, mari kita sebut saja dia dengan β€˜bro’ πŸ˜€ Saat melewati bangunan dan wilayah yang menurut kami asing, mas bro langsung menjelaskannya tanpa kami minta.

floating village

Boat terus melaju dan tanpa terasa dari kejauhan kami mulai melihat bangunan-bangunan terapung. Mas bro lalu berkata, β€œkita sudah hampir sampai di danau kehidupan. Kalian bisa Β lihat di pinggir kanan kita. Bangunan terapung yang besar itu merupakan sekolah, di samping sekolah agak maju sedikit ada pos polisi. Lihatlah di depan kita, ada bangunan besar. Itu adalah pasar untuk jual beli kerajinan warga dan tambak.” Mas bro menjelaskan satu-satu bangunan terapung yang kami lewati sambil tangannya sibuk nunjuk ke sana ke sini.

Secara Garis Besar, Begini Kehidupan Warga Floating Village di Danau Tonle Sap

Sekolah yang ada di Floating Village menarik buat saya. Anak-anak yang bersekolah di sana tapi nggak punya orang tua dan nggak punya rumah, hidupnya ya di sekolah itu juga. Makan minum tidur dan belajar di sekolah. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, anak-anak yang tinggal di sekolah tersebut mengandalkan bantuan makanan/barang dari warga lain atau sumbangan sukarela wisatawan yang datang.

Bangunan Sekolah di Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Riep
Bangunan Sekolah di Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Reap

Cara warga sana untuk bertahan hidup juga menarik. Sehari-harinya mereka pergi menangkap ikan di tempat yang jauh dari Danau Tonle Sap. Hasil tangkapannya lalu nanti dijual, ada juga sebagian yang dimakan sendiri.

Ikan Hasil Tangkapan dan Dimakan Sendiri
Ikan Hasil Tangkapan dan Dimakan Sendiri

Trus selain itu, warga sana juga beternak lhooo. Yang diternakin adalah buaya sama lele. Waduuu… serem. Buaya sama lele itu nanti hasilnya dimakan sendiri dan ada yang dagingnya dijual kepada wisatawan yang datang. Saya sempat ditawari makan daging buaya sama mas bro. Mas bro bilang, rasa daging buaya dan daging ular itu jauh lebih enak daripada daging ayam. Euhh… masa sih? Coba nggak ya? Heumm… nggak deh πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Ternak Buaya di Floating Village di Danau Tonle Sap

Cara lain yang sebagian warga sana lakukan untuk mendapatkan uang adalah dengan menawari jasa foto bareng. Haha… foto bareng? Yhuuu..

Warga di Floating Village Danau Tonle Sap Siem Riep

Saat itu yang saya lihat melakukannya rata-rata adalah ibu-ibu dan anak kecil. Mereka akan naik perahu dayung, boat, atau malah bekas tong yang dipotong membentuk perahu kecil. Mereka mendekati boat yang membawa wisatawan lalu menawarkan diri siapa yang mau berfoto dengan mereka. Sekali foto kita harus membayar sekitar 1 USD.

Tadinya saya sempat penasaran, tapi setelah diamati, ternyata keunikan yang juga mereka tawari saat foto bareng dengan mereka adalaahhhhhhh ular yang mereka kalungkan di leher. Huuuu… nggak deh, geliii. Kalau kalian gimana, berminat? πŸ˜€

Ibu dan Anak Kecil di Floating Village Danau Tonle Sap Siem Riep

Saya sebenarnya kasian juga. Usia masih belia gitu tapi sudah harus mencari uang dengan cara seperti itu. Belum lagi tuh ada ibu-ibu yang membawa bayinya di perahu sambil ngejar-ngejar boatnya wisatawan. Kasian πŸ™

Harus Selalu Bersyukur Untuk Hidup

Ada untungnya juga nih saya singgah sejenak di Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Reap. Saya jadi bisa berkaca sama kehidupan dan cara warga di sana bertahan hidup. Nggak kebayang kalau saya yang harus hidup mengapung di atas air kaya gitu deh.

Senja di Floating Village Danau Tonle Sap Siem riep
Senja di Floating Village Danau Tonle Sap Siem Reap

Trus itu belum kalau saat musim hujan, gaes. Saat musim hujan warga Floating Village di Danau Tonle Sap Siem Reap ini nggak bisa tetap tinggal di danau. Airnya naik sampai setinggi 12an meter. Jadi mereka harus ngungsi ke hutan biar lebih aman. Nanti rumah terapungnya dibawa menepi ke dekat hutan. Ribet gitu gaes.

Hmm… sungguh perjuangan yang berat bukan? Saya benar-benar harus terus bersyukur karena masih bisa hidup di atas tanah, punya rumah, dan serba berkecukupan.

24 pemikiran pada “Singgah Sejenak di Floating Village, Siem Reap, Kamboja”

  1. Wahhh.. Kalo ternyata bapak bapak supir tuktuknya adalah marketing nya floating village gimana??

    Kasian juga yakk kalo sering sering ujan.. Bakalan sering ngungsi

    Berarti kalo udah gak musim ujan, mereka bakalan bangun rumah lagi dong karena rumah mereka udah “ngambang”

    • Usut punya usut, ternyata rumah sopir tuktuknya memang dekat floating village kak *ups
      Kalau musim ujan mereka pindah dengan membawa rumah untuk menepi. Kalau musim kemarau lagi,mereka ke danau lagi πŸ˜•

  2. $20 lumayan mahal juga yaa. Aku kok agak miris yaa, bukan secara kehidupan mereka. Namun dari segi wisata, mereka seolah-olah dijadikan sbg objek. Tapi mereka tetap jadi masyarakat yang kekurangan. Seharusnya bisa dikembangkan lagi tentang kehidupan mereka di atas danau.

    • Iya, disatu sisi mereka bangga menjadikan objek ini sebagai wisata πŸ™
      Pemerintah sana masih belum banyak dana, masih banyak warga miskin yang hidup seadanya dan kurang bersih tempatnya

  3. Kalau di kampung halamanku, ada sih warga yang tinggal di rumah terapung gitu, tapi cuma di pinggiran sungai. Nggak sampai ke tengah-tengah kaya di Floating Village Siem Riep.
    Miris juga ya kehidupan warga di sana. Beruntungnya kita yang hidup lebih nyaman.
    btw, harusnya dirimu nyobain daging buayanya, kak dev, haha…

  4. Setelah denger cerita dari temen dan baca artikel mba dev ini, jadi lebih jauh memandang tentang Kamboja deh.. banyak yang unik disana. πŸ˜€
    Semoga suatu saat ada kesempatan mbolang kesana hihi..
    aamiin

Tinggalkan komentar