Cappucino dan Sahabat

*Cerpenku ini pernah dimuat di buku antologi LDR 3 “Lurus Jalan Terus” terbitan efarasti publishing 2014

‘Bagaimana bisa persahabatan terbentuk karena minum cappucino?’

Hampir setiap hari aku minum cappucino. Kegemaran yang sudah lama aku lakukan. Kegemaran minum cappucino ini berawal sejak masih duduk di kelas 1 SMA. Bagi sebagian orang, rasa cappucino memang pahit, namun sedikit tambahan gula akan membuatnya menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Bagiku, cappucino bukan hanya sekedar minuman yang mempunyai cita rasa pahit saja, namun ada cerita lain dibaliknya. Ada makna dan pengalaman tersendiri yang aku dapatkan berkat secangkir cappucino yang akhirnya membuatku semakin menggemarinya. Cappucino memiliki filosofi tersendiri bagiku, yaitu ‘cappucino dapat menciptakan sebuah persahabatan’. Secangkir cappucino dapat menyatukan dan mengakrabkan. Aku dan sahabat dapat bertukar pikiran serta saling mendukung.

Kata orang, SMA merupakan masa-masa yang paling mengasyikkan. Yap, aku sependapat sebab aku pun mengalaminya. Sekolah bukan hanya sekedar tempat untuk belajar secara formal, namun juga menjadi tempatku belajar mengenal banyak orang. Di sekolah, aku menemukan sahabat-sahabat terbaikku.

***

Teng…teng..teng… lonceng istirahat berbunyi. Aku bergegas keluar kelas untuk makan. Kantin sekolah yang letaknya tidak begitu jauh dari kelas segera kuhampiri. Hap! Aku duduk dengan semangat dan langsung memesan makanan pada penjaga kantin.  “Mpok, biasa, pesan soto sama es cappucino satu ya. Nggak pake lama,” pesanku sambil nyengir. Sembari menunggu pesanan datang, aku menengok ke kanan dan kiri mengamati suasana kantin. Sepi. “Mpok Ipe, sepi amat ya? Mana nih teman-teman yang lain? Padahal kan sudah jam istirahat,” tanyaku pada penjaga kantin. “Aduh Sher, sabar dong. Kamu itu yang terlalu cepat keluar dari kelasnya,”kata Mpok Ipe.

“Hahaha, iya Mpok, soalnya kelaparan. Mana sotonya?” ucapku sembari tertawa kecil.

“Nih, spesial untuk Mbak Sherly.” Mpok Ipe meletakkan soto dan es cappucino di hadapanku. “Makan yang banyak, biar badan kamu itu gendut,” sambung Mpok Ipe.

Aku pun tertawa mendengar ucapan Mpok Ipe. “Ya ampun Mpok, makanku sudah banyak kali, tapi tetap aja badanku masih kurus. Nggak masalah kok Mpok, yang penting kan tetap cantik,” ucapku membela diri.

“Ah, dasar kamu, narsis.”

“Hahaha, iya dong, Sherly. Udah ah, aku makan dulu Mpok,” ucapku sembari menarik mangkok soto lebih dekat ke hadapanku. Soto buatan Mpok Ipe warnanya kuning, benar-benar menggugah selera. Masih pula ditemani dengan segelas es cappucino, minuman favoritku. Hmmm, menu yang pas untuk dinikmati di cuaca yang sedang panas-panasnya ini.

Ketika sedang asyik menyantap menu makan siangku, tiba-tiba terdengar suara dari arah luar kantin. “Sher…! Suaramu nyaring banget. Kedengaran dari radius seratus meter,” sapa si pemilik suara. “Eh, Enji.” Aku menoleh sedikit kaget. “Kok baru keluar dari kelas? Betah banget.” Aku nyengir dan menggoda Enji. Enji adalah teman satu sekolahku, namun kami berada di kelas yang berbeda. “Iya, tadi Bu Intan kasih jam tambahan 15 menit. Waktu istirahat jadi berkurang kan,” ucap Enji dengan nada kesal sembari duduk di sebelahku.

“Sudahlah Nji, daripada ngedumel terus, lebih baik pesan soto di Mpok Ipe deh. Enak banget loh. Aku juga masih mau tambah soto lagi. Sumpah, enak banget, kamu harus coba.” Aku mempromosikan soto buatan Mpok Ipe dengan bersemangat.

“Yeee, malah promosi. Iya, iya, aku coba.” Enji pun tergoda oleh ucapanku.

“Mpok, pesan sotonya satu ya. Oh iya, jangan lupa minumnya es cappucino juga.”

“Siap, Nji,” jawab Mpok Ipe.

Setelah menghabiskan dua mangkok soto, aku pun merasa kenyang. Aku hanya tertawa kecil melihat Enji yang melirik dengan tatapan aneh ke arah mangkok-mangkok soto yang sudah bersih karena ulahku yang kelaparan. Setelah menghabiskan dua mangkos soto, aku merasa kenyang. Ah..kenyaaang. Gimana nggak kenyang coba, sotonya habis dua mangkok!. Akupun tertawa kecil. “Nji, kamu suka kopi juga?sejak kapan?,”tanyaku tiba-tiba. “Iya Sher, sejak kelas satu’” jawabnya kemudia. Sherlypun merasa punya teman yang suka kopi. “Kalau gitu pulang sekolah kita ke kedai limabelas yuk, disitu kopinya mantab,”ajakanku kepada Enji. “Oke, pulang sekolah aku tunggu di parkiran sepeda motor yah?,” jawabnya kemudian.

Aku kembali kekelas dengan memasang muka bete. Pelajaran akan dimulai, pelajaran yang nggak aku suka. Sejarah. Bagiku sejarah itu membosankan, ngapain yang udah jadi kenangan malah dipelajari lagi. Loh!. Terpaksa deh, aku mengikuti pelajaran sejarah dengan setengah hati. Suasana kelas sepi, hanya ada guru yang rajin menerangkan pelajaran, mulai dari dibangunnya candi-candi, artefak, sampai hafal tahun berdirinya. Aku aja menghafalkan tahun lahir mantanku lupa, malah hafalin tahun sejarah yang entah beribu-ribu tahun yang lalu. Hahahaha..tiba-tiba aku ketawa karena ngedumel sendiri. “Sherly!! kenapa kamu ketawa sendiri?,” Pak guru teriak kepadaku. Serentak teman-teman satu kelas melihat ke arahku dan tertawa melihat tingkahku, dan aku langsung malu. Ah. sial, kenapa aku jadi yang kena sih. Langsung aja aku jawab, “itu Pak.. aku lagi menyamakan pelajaran sejarah itu sama kayak masa lalu, ketika masa lalu itu buruk kenapa harus dipelajari lagi?, terus satu lagi Pak, masak kita disuruh ingat tahun-tahun jaman kuno?tahun lahir mantan aja aku nggak tahu”. Spontan teman-teman tertawa dengan kerasnya. “Dasar Sherly!! nanti pulang sekolah kamu menemui Bapak dikantor!,”nada tegas Pak guru membuyarkan suasana raia teman-teman sekelas.

            ***

Teeeeeeeet. Jam tanda akhir pelajaran, ini juga berarti jam pulang sekolah. Tapi bagiku jam pulang sekolah hari ini akan terasa amat panjang. Setelah membersihkan buku-buku dimeja, akupun pergi meninggalkan kelas. Menyelusuri lorong sekolah menuju kantor guru, aku berjalan sangat lambat. Malas dan sebal yang aku rasakan. Sambil main handphone, akupun terus berjalan.

Bruak!. aku baru aja menabrak seseorang. “Hey Enji, maafin aku. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?,”tanyaku sambil merasa bersalah. Enji masih membereskan buku-bukunya yang berserakan dilantai. “Ngapain sih kamu,jalannya nggak liat sih!”. “Maaf Nji, aku lagi sebal nih, aku disuruh menemui guru sejarah di kantor, yaudah daripada bete mending main handphone,”jawabku. “Kenapa Sher?,”tanya Enji menatap tak percaya. “Gara-gara tadi dikelas pelajaran sejarah, aku ketahuan ketawa sendiri. Terus aku ditanya kenapa ketawa sendiri. Aku tadi jawab kalau belajar sejarah itu nggak penting. Ngapain coba belajar tentang masa lalu, kayak nggak mau move on aja sama mantan. Eh, dia malah marah ke aku”.

“Hahahahaha…jelaslah kamu dimarahin, dasar ngacol!,” Enji dengan spontannya ketawa kenceng. Pergilah Enji ke tempat parkir dengan ketawa terpingkal-pingkal.Ketawa Enji yang cukup keras masih terdengar saat aku hendak berjalan berlawanan dengannya karena akan menemui guru sejarah.

Tok tok tok. Aku mengetuk pintu kantor guru sejarah itu. Aku masuk dan duduk didepan guru sejarah. Segera saja aku minta maaf tentang kejadian dikelas itu. “Pak, saya minta maaf atas kejadian tadi,”kataku sambil ketakutan. “Iya Sher, lain kali jangan diulangi lagi, mending kalau kurang minat dengan pelajaran sejarah, perumpamaannya yang indah-indah aja. Masa lalu nggak hanya berhubungan dengan mantan. Sekarang belajarlah suka pelajaran sejarah karena sejarah itu penting bagi kehidupan kita. Jangan diulangi lagi,ya?” jawabnya. “Hehe iya Pak, terima kasih banyak. Saya nggak mengulangi lagi,”jawabku kemudian.            Aku pergi meninggalkan ruang kantor guru sejarah itu. Aku berjalan menuju parkiran. Sepeda motor yang masih setia diparkiran siswa cuma punya aku dan Enji. “Enji, maaf lama menunggu,”kataku. “Santai, Sher. Yuk,”ajakannya.

Enji segera menaiki motor mio birunya dan aku juga menaiki motor smash hitam. Kami pergi meninggalkan sekolah, menuju kedai limabelas. Suasana terik di siang hari, ditambah polusi asap kendaraan membuat aku ingin segera sampai ke kedai limabelas. Sambil membayangkan betapa enaknya, minum es cappucino.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, kami menaruh sepeda motor di tempat parkir. Setelah itu, kami turun sepeda motor. Berjalan menuju kedai dengan riang gembira. Haus dan panas, itulah yang aku rasakan siang hari itu. Terik matahari begitu menyengat dikulit. Kemudian kami duduk dengan langsung minta menu kepada penjaga kedai itu. Hanya sebentar aku melihat menu, dan langsung memesan. “Mas, aku pesan es cappucino seperti biasa ya. Pake cream,”pesanku.

“Sama mas, aku juga pesen yang sama,” tamah Enji. Mas itupun langsung mengerti maksud pesanan kami. Aku adalah pelanggan tetap dikedai ini. Harga es cappucino pada saat itu hanya seribu rupiah, terjangkau kan buat kantong pelajar.

“Bentar lagi kita Ujian Nasional kelulusan yah, Sher?kamu ingin kuliah dimana?”tanya Enji tiba-tiba. “Iya nih, nggak kerasa sudah hampir lulus aja. Aku ingin kuliah di Malang. Kamu dulu pernah juga bilang ingin di Malang kan?.Kalau gitu kita berjuang dan berdoa biar apa yang kita impikan tercapai.” jawabku. “Amin” jawab kami barengan kemudian diiringi tawa.

Datanglah es cappucino pesanan kami. Tanpa menunggu waktu lama, kami langsung minum es cappucino itu. Segar, yummy!. Siang terik, matahari yang menyengat, sejenak aku lupakan karena kesegaran rasa es cappucino ini. Rasa es cappucino pas dilidah, nggak terlalu pahit selayaknya kopi hitam, nggak terlalu manis kayak susu. Pas. Apalagi cream putih yang ditaburin dengan coklat, menambah lezatnya rasa es cappucino ini. Aku melihat kearah Enji, dia terlihat suka minum cappucino disini.Setelah itu hampir tiap hari sepulang sekolah kami minum kopi bareng. Dan persahabatan kamipun terbentuk.

***

Ujian Nasional semakin dekat. Kami sibuk belajar, dan sudah jarang keluar bareng. Belajar demi kelulusan SMA. Tiga bulan menjelang ujian, aku belajar mengulang pelajaran yang pernah aku terima. Setumpuk buku soal-soal latihan Ujian Nasional menungguku untuk dikerjakan. Tiap hari dengan rutinitas yang sama. Pulang sekolah, langsung pulang kerumah. Bersihkan badan, dan kemudian menuju meja belajar untuk menjawab soal-soal latihan Ujian Nasional.

Waktu yang dinantipun telah tiba. Hari ini Ujian Nasional dimulai. Selama tiga hari, kami akan disibukkan dengan ujian. Nggak lupa sebelum berangkat sekolah aku meminta doa restu mama agar diberi kelancaran oleh Allah SWT.

***

Tiga hari telah berlalu, kami para siswa dan siswi kelas 3 SMA masih berdebar menunggu hasil ujian bulan depan. “Woy Sher, lama nggak jumpa. Minum cappucino bareng yuk,” ajak Enji sambil menepuk keras dibahuku.

“Woy juga. Lagian udah lama nih nggak minum kopi bareng. Kira-kira kita minum kopi apa ya enaknya?” timpalku sambil menahan sakit dibahu.

“Jelas cappucino dong. Itu kan minuman kesukaan kita,” jawab Enji sambil ketawa.

Sesampainya di warung kopi, kami memesan es cappucino yang sama. Kami bercanda bersama, banyak hal yang diceritakan. Mulai masalah sekolah sampai masalah pribadi. Kedekatan sebagai sahabat telah kami rasakan. Enji menceritakan pengalamannya dikelas yang terkenal rajin, pintar sampai dia ditunjuk jadi ketua kelas. Dia bercerita dengan antusiasnya tentang apa yang telah dilalui selama kurang lebih tiga tahun ini. Dan menceritakan tentang jurusan apa yang akan diambil ketika di Universitas. Aku mendengarkan semua cerita Enji sambil meminum es cappucino yang telah aku pesan. Aku juga banyak cerita tentang pengalaman selama kurang lebih tiga tahun ini. Semenjak suka minum cappucino dan keluar bareng, kami menjadi sahabat dekat.

Selesai bercerita, kami langsung pulang menuju ke rumah masing-masing. Sore harinya aku pergi ke toko buku, aku mencari buku-buku persiapan masuk ke perguruan tinggi. Banyak buku yang menyajikan soal-soal persiapan ujian masuk ke perguruan tinggi. Aku bingung harus membeli yang mana. Aku mencoba membandingkan satu-satu, dan ternyata semua bagus. Akhirnya aku ambil satu buku yang menurutku paling lengkap. Buku yang berbonus CD. CD cara menjawab soal-soal dengan cepat.

Aku harus bisa lolos ujian di Universitas Kota Malang, makanya aku belajar dari sekarang dong. Sampai dirumah, aku segera membuka buku yang masih terbungkus plastik itu. Banyak macam soal yang harus aku kerjakan. Menunggu waktu pengumuman hasil Ujian Nasional, aku menghabiskan waktu untuk latihan mengerjakan soal di rumah. Dan nggak lupa ditemani dengan secangkir es cappucino.

Bulan yang ditunggu telah datang, ternyata kami semua lolos Ujian Nasional. Alhamdulillah. Tantangan belum selesai, yang harus kami lakukan adalah menuju ke masa depan. Ada yang memilih melanjutkan kuliah, ada yang memilih bekerja dan ada yang memilih menikah. Yah, itu semua pilihan masing-masing. Aku memilih melanjutkan kuliah. Belajar dengan rajin dan tak lupa berdoa. Kesibukkan teman-teman setiap hari dihabiskan oleh menjawab latihan soal masuk ke perguruan tinggi.

Kriiiiiing… suara telepon rumah berbunyi. Aku angkat telepon itu, dan ternyata Enji. “Hai, Nji kamu lulus kan? Selamat ya. Nilai kamu tertinggi ke 4 di sekolahan,” sahutku di telepon.

“Yeee.. kamu malah diatasku, rangking 3. dasar!” jawabnya kemudian. Kami tertawa bareng di telepon.

Lama mengobrol di telepon, sampai lupa waktu. Sudah 1 jam aku bercanda, sampai perutku kaku menahan tawa. “Nji, lusa kan ada Ujian Masuk Perguruan Tinggi, bareng yah ke Malangnya,” tanyaku sambil mengharap dia setuju.

“Oke,” Jawab Enji kemudian. Akhirnya dia setuju. Setelah itu teleponpun di tutup. Waah sudah mendekati hari ujian aja nih. Besok akan aku habiskan untuk istirahat seharian ah, biar lusa waktu ujian staminaku terjaga.

***

Siapkan pensil dan penghapus, jangan melihat jawaban orang lain dan kerjakan sendiri. Begitu instruksi penjaga Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Akhirnya hari ujian dimulai. Soal diberikan kepada peserta satu-satu. Akupun menerimanya. Sebelum mengerjakan tidak lupa aku berdoa agar diberi kemudahan dalam menjawab soal-soal yang telah dibagikan. Suasana hening saat ujian dimulai, tak ada keributan didalam ruangan, yang ada suara kertas yang dibolak-balik, suara pensil yang digunakan untuk menulis. Tiga jam kami lalui dengan serius mengerjakan ujian masuk ini. Suasana hening saat mengerjakan ujian ini akan aku lalui di dua hari kedepan. Keesokkan harinya maupun lusa, masih harus kami lalui untuk menyelesaikan soal-soal yang lain.

Hari kedua mengerjakan soal tetap berlangsung serius, begitupula hari terakhir. Suasana ramai di ruangan ini hanya akan aku temui ketika panitia mengumumkan waktu mengerjakan sudah habis. Ada yang ribut masih menjawab soal yang kosong, ada yang ribut membereskan barang-barangnya, dan ada yang sudah siap dan meninggalkan tempat duduknya untuk mengumpulkan soal serta jawabannya. Akhirnya selesai sudah ujian selama tiga hari ini. Pengumumman akan segera ada di website keesokkan harinya. Aku nggak sabar menunggu hari besok.

***

Pengumuman Ujian telah ada, aku melihat namaku di layar monitor. Ada dan lolos. Segera aku melihat nama sahabatku juga. Dia juga lolos. Kami ketrima di Universitas impianku. Segera aku memberi tahu orang tuaku tentang kabar bahagia ini, dan termasuk memberi tahu Enji sahabatku.

***

Tak terasa waktu berlalu, sepertinya baru kemaren aku mengerjakan Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Eh.. sekarang udah jadi mahasiswa aja. Sahabatku Enji juga sudah menjadi mahasiswa di Universitas yang diinginkan. Kami masuk di Universitas yang berbeda tetapi masih dalam satu kota. Meskipun begitu, kegemaran minum kopi bersama masih kami lakukan. Kopi cappucino, yang dapat mendekatkan aku dengan Enji. Sampai sekarang meskipun dengan aktivitas mahasiswa yang berbeda, meskipun kami sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Tapi minum cappucino di akhir minggu tetap aku lakukan bersama sahabat terbaiku.***

3 pemikiran pada “Cappucino dan Sahabat”

  1. Persahaban itu kadang pahit, kadang manis dan penuh kehangatan..
    seperti secangkir capucino..
    dengan cita rasa pahit..tapi bisa manis bila kita tahu takaran yang pas dan tentu memberi rasa hangat saat meminumnya..☺

Tinggalkan komentar