Traveling

Traveling Seru di 2017 (1) : Horor di Awal Perjalanan Menuju Melaka

Selamat datang 2018. Terimakasih 2017. Nggak kerasa sudah hari ke-6 di Tahun 2018. Tahun yang baru, semoga menjadi tahun yang lebih baik. Harus tetap semangat. Termasuk semangat traveling, hahaha…

Soal pengalaman traveling, tahun 2017 kemaren banyak mengajarkan saya bahwa pergi dengan siapa itu ternyata lebih penting daripada pergi kemana. Walaupun capek dan ada kejadian-kejadian yang nggak menyenangkan, ujung-ujungnya bakal tetap asik kok kalau kita pergi dengan teman perjalanan yang seru. Ada beberapa pengalaman yang membuktikan tentang ini.

Contohnya kaya perjalanan saya bareng teman NHCL (nama kumpulan beberapa teman dekat) ke Melaka, Malaysia bulan September 2017. Walaupun diawali dengan kejadian horor, perjalanan saya bersama mereka tetap seru!

Akhirnya ke Malaysia Juga Dehhh…
Akhirnya sampai di Melaka

Awalnya saya nggak suka dan nggak tertarik ke Malaysia karena menurut saya terlalu dekat dengan Indonesia. Masih satu rumpun juga. Berkali-kali saya menolak ajakan teman-teman saya untuk pergi ke sana, termasuk anak-anak NHCL.

Saya sempat berpikir lumayan panjang tuh, lalu bilang ke mereka, “guys, selain Malaysia dong.” Mereka cuma jawab, “ini aja dulu, ntar gampang ke yang lainnya. Kita ke Melaka nya aja, tempat yang penuh dengan sejarah.”

 

Mima, salah 1 teman saya di NHCL memang suka hal-hal yang berbau sejarah. Kalau traveling pun dia biasanya bakalan nyari tempat yang memiliki history tinggi, apalagi kalau banyak bangunan tuanya.

Sebelum mengiyakan, saya juga sempat baca-baca untuk cari info tentang Melaka. Hmm…. ternyata emang benar Melaka mendapat penghargaan sebagai World Heritage City dari UNESCO. Kalau liat foto-foto di internet, banyak bangunan tua dengan bentuk yang unik di sana.

Pergi Berenam Seru-Seruan ke Melaka

Akhirnya, ya udeh, jadilah saya mengalah. Cusss ke Melaka bareng mereka. Lumayan pergi rame-rame berlima, ditambah lagi ada satu pria tampan, yaitu adik kesayangan :p

Otw Melaka, tapiiiii kok horor ya? Hmmm…

Dari KLIA2, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan bus untuk sampai di Melaka. Kami naik Transnasional rute KLIA2 – Melaka Sentral dengan biaya MYR 24 per orang.

KLIA2 to Melaka Sentral

Saya yang memang sudah ngantuk karena kelamaan nungguin jam keberangkatan, akhirnya memilih langsung tidur saja pas sudah berada di dalam bus. Kursi busnya kurang nyaman. Untungnya saya pelor alias nempel langsung molor, hihihihi…

Di setengah perjalanan, pas saya lagi enak-enak tidur, saya terbangun gara-gara mendengar si sopir tertawa kencang, lalu marah-marah dan bicara sendiri. Mata saya yang masih berat akhirnya makin melek waktu lampu di dalam bus menyala. Bzzzz…, langsung saya tersadar dan ketakutan. Ada apaaan neh?!

Sempat melihat sebentar ke arah si sopir, saya nggak melihat ada orang lain yang berbicara dengannya. Ditambah lagi, semua penumpang lain ternyata terdiam dan sama bingungnya seperti saya. Hmm…

Si sopir terus mengoceh seakan-akan berbicara dengan seseorang yang sudah membuatnya marah. Seseorang yang dianggapnya dari tadi iseng mengganggu saat ia sedang menyetir. Seseorang yang disebut-sebutnya berasal dari daerah Jawa Timur dan berani sekali menantangnya. Seseorang yang menurut saya – yang masih sadar dan waras ini – tidak terlihat wujudnya.

“Aku punya saudara di Indonesia, di Jawa juga ada HAHAHAHAA. Aku tidak takut sama kamu. Heei!!! Kamu, tunjukkan muka kamu. Jangan jadi pengecut. HAHAHA..” Kurang lebih kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia seperti itu deh kata-kata si sopir.

Si sopir juga mengoceh panjang tentang siapa dirinya kepada si seseorang yang nggak terlihat itu. Ia bilang ia adalah keturunan Majapahit dan punya kemampuan hebat. Perkenalan dirinya ini juga diselingi dengan tawanya yang keras. Suasana di dalam bus juga terasa semakin nggak menyenangkan ketika lampu bus yang tadi menyala, tiba-tiba mati lagi.

Sesekali si sopir bus yang mengoceh sebagai keturunan Majapahit tadi sempat beberapa kali mengangkat kedua tangannya dari setir. Kondisinya, kecepatan bus nggak berkurang walaupun si sopir sibuk ngoceh sendiri. Ini lebih horor cuy. Kalau busnya nyungsep ke badan jalan gimana cobaaa? Hiiii…

Nggak lama, kami mulai ketakutan saat bis berjalan lebih lambat. “Jangan-jangan busnya berhenti. Jangan-jangan kami semua harus keluar. Jangan-jangannnn…..”  Ah pikiran saya waktu itu semrawut, nggak terkontrol saking takutnya. Tapi ternyata si sopir kembali mempercepat laju bus.

Denma, adik saya, mulai colek-colek dan berbisik menanyakan ada apa. Resek kan ya. Berisik sendiri. Saya yang nggak paham apa-apa, jadi berusaha mencari tau dengan melirik ke arah Mima dan Unyil yang duduk di kursi sebelah. Mereka menggelengkan kepala dan memberi isyarat supaya saya diam saja. Rupanya mereka juga nggak paham ada apa.

Jadilah kami diam saja sambil mendengarkan ocehan si sopir bus. Saya juga ikutan komat-kamit alias berdoa. Berdoa semoga si sopir cepat sadar dan kami selamat sampai di tujuan. Posisinya kami waktu itu di jalan tol. Gileee ajeee kalau ada apa-apa. Perjalanan masih panjang cuy…

Saat itu saya juga sebenarnya yakin banget, Fosil dan Mbak Didy doanya pasti lebih khusyuk. Soalnya mereka duduk persis di belakang si sopir, ahahahahaha!! Nggak kebayang deh tuh rasanya gimana.

Saya baru bisa bernapas lega saat bus memasuki Melaka Sentral. Ya nggak lega-lega amat sih. Soalnya si sopir ternyata turun dari bus dan menunggu di samping pintu keluar penumpang. Kalau saya yang dicolek sama dia gimana coba? Hiii…

Sudah bisa ditebak, begitu masuk ke ruang utama terminal, kelakuan si sopir bus menjadi topik obrolan kami. Bukannya buru-buru mencari transportasi untuk menuju tempat makan, kami malah asik berdiri ngobrol sambil ketawa-ketawa. Hal yang nggak bisa kami lakukan selama setengah perjalanan di bus tadi. Belakangan saya baru tau lho, ternyata pas lampu di dalam bus hidup dan mati itu, kata Mbak Didy, dia nggak melihat tangan si sopir lepas dari setir untuk menyentuh tombol lampu. Haioooo trus siapa donggg? Wiiiinkkkkk… x_x

Belum juga sampai di Melaka, sudah disambut sama yang horor begitu. Untungnya saya pergi dengan teman-teman yang asik (walaupun rata-rata sama penakutnya), wkwkwkwk…. jadinya kami tetap melanjutkan perjalanan kami dengan seru. Yeayyy…

 

Tagged , , , , , ,

About devidhede

easy going, cat lover, culinary lover, travel addict
View all posts by devidhede →

6 thoughts on “Traveling Seru di 2017 (1) : Horor di Awal Perjalanan Menuju Melaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *